Ingin Bayi Perempuan atau Laki-laki, Ternyata Bisa Diprogram PDF Print E-mail

Teknologi kedokteran yang semakin canggih dari waktu ke waktu telah memungkinkan banyak pasangan untuk merencanakan jenis kelamin janin mereka.  Meski keberhasilannya ada yang mendekati 100%, namun semua program tersebut berpulang kembali pada masing-masing pasangan.  Sekadar memenuhi keinginan ataukah ada alasan medis yang mendasarinya?

Program untuk merencanakan jenis  kelamin (seks) janin sebenarnya sudah sejak lama dilakukan.  Ada yang dilakukan dengan cara natural, seperti dengan menggunakan perhitungan masa subur saat melakukan hubungan seks, hingga mengatur nutrisi si Ayah dengan konsumsi daging, buah, dan sayuran tertentu.  Dengan kemajuan metode teknologi kedokteran, tujuan ini juga dapat dicapai dengan cara pemeriksaan awal.

Menilik Cara Natural & Keberhasilannya
Cara natural merupakan salah satu cara yang dipilih banyak pasangan saat berkonsultasi dengan ahli medis untuk merencanakan jenis kelamin janin yang diinginkan, meski tergolong inkonsisten.
Secara ilmiah, kemungkinan mendapatkan jenis kelamin janin ini memang bisa dijelaskan.  Kita mengenal teori ‘kromosom X (penentu seks perempuan) dan kromosom Y (penentu seks laki-laki)’.  Kromosom Y ini bergerak lebih cepat dan rentan terhadap keasaman vagina sehingga lebih cepat mati.  Sementara kromosom X, lebih lambat gerakannya namun lebih tahan terhadap keasaman vagina.  Sebelum terjadinya pembuahan (fertilisasi), sel telur (ovum) yang belum dibuahi membawa kromosom X, sementara sperma bisa membawa kromosom X maupun Y.

  • Mengatur waktu hubungan seks
    Prinsip cara ini adalah dengan memberi jarak antara waktu berhubungan seks dengan waktu ovulasinya (masa subur).  Misalnya saja, hari subur si Ibu setiap bulannya jatuh pada tanggal 14.  Maka, jika menginginkan janin laki-laki, pasangan ini harus melakukan hubungan seks yang berkualitas saat menjelang masa subur (satu hari sebelumnya atau tepat pada tanggal 14).  Karenanya, kromosom Y sperma akan langsung bertemu dan membuahi kromosom X ovum, sehingga kemungkinan terbentuknya janin laki-laki cukup besar.  Sebaliknya, jika menginginkan janin perempuan, pasangan ini hendaknya melakukan hubungan seks beberapa hari (3-4 hari) sebelum hari subur si Ibu.  Dengan demikian,  kromosom Y sperma akan terpapar oleh keasaman cairan vagina, sehingga kemungkinan kromosom X sperma yang tersisa untuk bertemu dan membuahi kromosom X ovum, hingga kelak terbentuk janin perempuan.
  • Mengondisikan vagina sebelum berhubungan seks
    Cara natural yang kedua, yaitu dengan mengondisikan kondisi keasaman (pH) cairan vagina sebelum berhubungan seks.  Jika pasangan ingin mendapatkan janin laki-laki (XY) kelak, maka sebelum berhubungan seks, si Ibu dianjurkan membasuh vaginanya dengan larutan garam (seperti air yang dicampur baking soda) agar keadaan pH-nya cenderung basa, sehingga kromosom Y sperma tetap hidup dan membuahi kromosom X ovum.  Begitu pula sebaliknya, si Ibu dapat membasuh vaginanya dengan cairan asam (seperti air yang dicampur cuka) untuk membunuh kromosom Y sperma, sehingga yang tersisa kromosom X sperma untuk segera membuahi kromosom X ovum.  Karenanya, kemungkinan mendapatkan janin perempuan (XX) lebih besar.
    Lakukan kedua cara di atas sebelum berhubungan seks, namun tentu saja, komposisi asam atau basa itu harus tepat agar tak melukai organ intim.
  • Mengatur nutrisi si Ayah
    Hingga saat ini memang belum ada suatu data ilmiah yang sangat mendukung keterkaitan langsung antara jenis makanan yang dikonsumsi si Ayah sebelum melakukan hubungan seks dengan jenis kelamin janin yang dikandung si Ibu kelak.  Namun secara ilmiah, nutrisi tertentu memang berperan dalam membentuk karakter-karakter kehidupan tertentu.
    Ingin janin laki-laki?  Biasanya, si Ayah akan dianjurkan mengonsumsi jenis-jenis makanan seperti daging merah, ikan asin, seledri, pisang, dan aprikot.  Bila perlu, kudapan si Ayah juga diatur dengan makanan berbahan kentang dan terigu.
    Sebaliknya, jika pasangan menginginkan janinnya kelak perempuan, maka si Ayah dianjurkan mengonsumsi banyak sayuran, ikan, produk susu, buah (apel, jeruk, peach) dengan bentuk kudapan seperti cokelat.

Dibalik Kecanggihan Teknologi Medis

Dibidang medis, sex selection dilakukan dengan memfokuskan pada DNA content.  Kromosom X diketahui memiliki berat yang lebih besar ketimbang kromosom Y; dan berat keduanya berkisar antara 2.8-3.0%.  Karenanya, kedua jenis kromosom ini dapat dipisahkan.
Ada beberapa teknik pemisahan kedua jenis kromosom seks ini berdasarkan tingkat akurasinya.  Teknik swim up sperma dan perhitungan kadar albumin sperma dapat dilakukan untuk tingkat keberhasilan yang mencapai 70-80%.  Sementara untuk mencapai tingkat akurasi yang lebih tinggi (sampai mencapai 90%), teknik fluoresensi dapat dipakai untuk memisahkan kromosom X dengan kromosom Y.  Prinsipnya, semen si Ayah yang dikeluarkan saat ejakulasi dipisahkan di luar untuk kemudian diinseminasi—yang lebih dikenal dengan istilah ‘reproduksi berbantu’.  Untuk tingkat akurasi mendekati kesempurnaan (mendekati 100%), teknik PGD (preimplantation genetics) dapat dipilih dengan membuat layaknya ‘bayi-bayi tabung’ sehingga kromosom X dan kromosom Y dapat dipisahkan dengan mudah untuk selanjutnya ditransfer sesuai jenis kelamin janin yang diinginkan.
Fenomena sex selection ini banyak dijumpai di India; biasanya bayi perempuan didiskriminasi.  Sementara di Indonesia, belum ada peraturan tentang ini.  “Sebelum melakukan cara natural ataupun teknologi medis seakurat apa pun, pada intinya Tuhan is the best,” ujar dr Diah Sartika Sari, SpOG yang berpraktik di Klinik Kebidanan dan Kandungan RSIA Kemang Medical Care, Jakarta.  “Bagaimanapun, baik cara natural dan teknologi medis akan berdampak besar seperti fenomena diskriminasi terhadap gender janin dan aspek hukum akibat aborsi janin perempuan seperti banyak kasus di India,” paparnya lebih lanjut.  Cara-cara sex selection seyogyanya hanya bisa dilakukan karena alasan medis, seperti kasus penyakit menurun hemofilia.  “Di RSIA Kemang Medical Care sendiri, pasangan-pasangan yang merencanakan kelahiran bayi mereka sesuai program jenis kelamin ini, dilakukan dengan cara natural karena alasan family balancing,” ungkapnya.

Posisi Seks Memengaruhi Jenis Kelamin Janin?

Meski ada beberapa sumber yang menyebutkan bahwa posisi pasangan saat berhubungan seks menentukan jenis kelamin janin kelak, praktisi ginekologi dr. Diah Sartika Sari, SpOG membantahnya, karena tidak terbukti secara ilmiah.  Posisi si Ibu yang tetap dalam arah horizontal ataupun berdiri saat berhubungan untuk membantu kromosom Y sperma mencapai rahim, hanyalah suatu mitos yang tidak berlandaskan metode ilmiah.   Demikian pula, gaya berhubungan woman on top yang disebut-sebut dapat melahirkan janin perempuan.
Ada beberapa teknik pemisahan kedua jenis kromosom seks ini berdasarkan tingkat akurasinya.  Teknik swim up sperma dan perhitungan kadar albumin sperma dapat dilakukan untuk tingkat keberhasilan yang mencapai 70-80%.  Sementara untuk mencapai tingkat akurasi yang lebih tinggi (sampai mencapai 90%), teknik fluoresensi dapat dipakai untuk memisahkan kromosom X dengan kromosom Y.  Prinsipnya, semen si Ayah yang dikeluarkan saat ejakulasi dipisahkan di luar untuk kemudian diinseminasi—yang lebih dikenal dengan istilah ‘reproduksi berbantu’.  Untuk tingkat akurasi mendekati kesempurnaan (mendekati 100%), teknik PGD (preimplantation genetics) dapat dipilih dengan membuat layaknya ‘bayi-bayi tabung’ sehingga kromosom X dan kromosom Y dapat dipisahkan dengan mudah untuk selanjutnya ditransfer sesuai jenis kelamin janin yang diinginkan.

Tabel Pembuahan Versi Institut Ilmu Pengetahuan Beijing

Sebuah naskah temuan yang disimpan oleh Institut Ilmu Pengetahuan Beijing menggambarkan bagaimana jenis kelamin janin dapat dipengaruhi dari bulan pembuahan dan usia si Ibu.  Percaya atau tidak, pada hakikatnya tabel ini dapat diambil esensi kebenarannya dari rumus usia si Ibu yang merefleksikan masa-masa suburnya.

Tips  dari Pakar

  1. Si Ibu harus tahu masa subur dengan metode perhitungan yang benar.
  2. Jika pasangan menginginkan janin:
    - laki-laki: lakukan hubungan seks berkualitas saat masa subur,
    - perempuan: lakukan hubungan seks beberapa hari (3-4 hari) sebelum masa subur.
  3. Niat dan usaha pasangan yang dilakukan untuk menjalankan program sex selection tidak boleh melebihi kepercayaan akan keputusan Tuhan yang terbaik.

dr. Diah Sartika Sari, SpOG

Artikel disunting dan pernah dimuat pada Majalah Kartini Edisi Khusus Ibu dan Anak



Share this articles
 

KMC Events

Promo Perawatan Kesehatan Gigi dan Mulut
Promo tidak berlaku untuk pasien peserta asuransi, pembayaran dilakukan secara

KMC News

Rasa bahagia menyelimuti RSIA Kemang Medical Care karena berhasil menginjak...
Content

Information

+62 21 27 54 54 00
+62 21 27 54 54 54

Doctor

+62 812 18 545454

Emergency

+62 21 788 388 68
+62 21 27 54 54 44