|
Fisioterapi Untuk Ibu Hamil merupakan layanan kesehatan yang dikhususkan untuk ibu hamil, berupa edukasi dan konsultasi tentang bagaimana posture yang benar untuk ibu hamil dalam beraktivitas sehingga tidak ada keluhan yang timbul selama kehamilan. Berikut tip posture yang benar pada ibu hamil:
Posisi Duduk
-
Duduk bersandar di kursi dengan diganjal bantal pada bagian pinggang.
-
Duduk tegak bersandar dengan kaki diganjal (posisi selalu kurang lebih membentuk sudut 90 derajat dengan paha), tidak boleh menggantung.
-
Usahakan duduk di kursi dengan sandaran tangan.
Mengangkat Barang
-
Tekuk lutut.
-
Condongkan badan ke depan.
-
Dekatkan barang kearah tubuh lalu angkat.
-
Jika barang dibawa pada bahu atau kedua tangan, seimbangkan barang bawaan Anda.
-
Usahakan tidak membawa barang terlalu banyak.
Jika selama hamil timbul keluhan dan rasa nyeri pada saat melakukan aktivitas, segera hubungi dokter atau fisioterapis Anda.
Wiwit Dinar, Fisioterapis Klinik Fisioterapi RSIA KMC |
|
Beberapa obat mungkin cukup aman kita konsumsi ketika mengalami sakit atau gangguan kesehatan. Namun ketika tengah hamil, beberapa obat yang tadinya aman dapat menjadi hal yang berbahaya. Penting untuk memperhatikan kandungan obat pada kemasan yang akan dikonsumsi pada masa kehamilan. Sebisa mungkin lebih baik menghindari konsumsi obat jika tidak terlalu dibutuhkan, terutama pada usia kehamilan 0-8 minggu karena ini adalah periode genting pada pertumbuhan calon janin. Namun jika Anda benar-benar membutuhkannya, sebaiknya berkonsultasilah dengan dokter Anda. Berikut diantara beberapa kandungan obat yang perlu diketahui dan kaitannya dengan kehamilan.
Pseudoefedrin
Pseudoefedrin termasuk golongan simptomimetik yang bekerja melegakan pernapasan yang tersumbat riak lendir dengan merelaksasi otot polos bronkus oleh stimulasi syaraf simpatik atau adrenergic yang melepaskan norepinefrin endogen. Kandungan obat ini terdapat pada beberapa obat flu yang beredar di pasaran. Obat dengan kandungan pseudoefedrin sebaiknya dihindari terutama di awal-awal kehamilan karena bisa member resiko gangguan pembentukan perut bayi.
Tetracycline
Tetracycline adalah jenis antibiotic dengan spektrum luas yang sering digunakan untuk mengobati berbagai penyakit akibat bakteri yang lainnya. Obat ini perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan kerusakan pertumbuhan gigi bayi berupa warna hitam. Kerusakan ini tidak bisa hilang sama sekali, sampai dewasa gigi bayi akan berwarna hitam.
Retinoic Acid
Retinoic acid atau Asam Retinoat adalah bentuk asam dan bentuk aktif vitamin A (retinol). Disebut juga tretinoin. Asam retinoat banyak dipakai dalam beberapa kosmetik. Retinoic acid perlu diwaspadai karena bisa menyebabkan kecacatan pada bayi. Tapi umumnya pada obat yang diminum.
Thalidomide
Thalidomide termasuk jenis obat yang sama sekali mesti dihindari oleh ibu hamil baik dalam jumlah kecil atau besar. Hal ini karena thalidomide bisa memberi efek buruk menyebabkan bayi tidak punya tangan kaki. Jika dikonsumsi pada akhir-akhir kehamilan bisa mengakibatkan ada telinganya yang tidak tumbuh. Obat ini merupakan jenis obat generasi lama yang dipakai untuk mengatasi gejala mual dan muntah selama kehamilan, kecemasan, serta insomnia.
Streptomisin
Streptomisin adalah termasuk jenis antibiotic yang biasanya ada pada beberapa obat untuk tuberkolosis (TBC). Penggunaan Streptomisin bisa berbahaya karena dapat menyebabkan bayi mengalami gangguan pendengaran.
Kabar baiknya ada beberapa obat yang tergolong aman dikonsumsi meski Anda hamil. Diantaranya semua jenis vitamin dan multivitamin. Semua obat maag dan paracetamol untuk penghilang nyeri juga cukup memberi lampu hijau. Namun paracetamol selama tidak dikombinasi dengan komposisi lain, jika dikombinasi, cermati dulu komposisi lainnya itu. Maka demi keselamatan kehamilan Anda, jelilah mencermati label obat.
dr. Febriansyah Darus, SpOG
Artikel disunting dan pernah dimuat pada Majalah Parents Guide Edisi Januari 2012 |
|
Banyak yang beranggapan tidak lengkap rasanya menjadi ibu bila persalinan tidak dilakukan secara normal. Kini, fenomena ini tampaknya sedikit bergeser. Sebuah survei terhadap 849 ibu muda di Indonesia, yang dikutip dari buku kehamilan oleh Nadia Mulya menunjukkan bahwa 46% di antara mereka lebih memilih persalinan dengan operasi caesar. Bagaimana dengan Ibu? Sebelum memutuskannya, pastikan Ibu mengetahui benar akan metode-metode persalinan beserta kelebihan dan kekurangannya.
Bagaimanapun, melahirkan secara normal adalah cara terbaik. Mengapa? Proses persalinan alami ini akan memberikan sinyal ke seluruh tubuh untuk melanjutkan perannya dalam proses penyembuhan dan ‘memberi makan’ bayi. Misalnya saja, kelenjar susu akan segera aktif memproduksi kolostrum dan air susu, rahim akan berkontraksi secara alami untuk kembali ke bentuk tubuh semula, darah kotor akan dikeluarkan, serta hormon perlahan kembali ke kondisi semula. Namun, perlu kedewasaan bagi masyarakat untuk tidak buru-buru mengecap ibu yang melahirkan normal itu hebat dan sebaliknya. Tidak ada bukti ilmiah bahwa mereka yang melahirkan normal akan lebih menyayangi anaknya dibandingkan mereka yang melahirkan secara caesar.
Persalinan Normal: Mengapa Paling Ideal? Pada persalinan normal, proses persalinan dilakukan lewat cara alami, yaitu melalui vagina. Jikapun digunakan obat-obatan, biasanya penggunaannya diusahakan seminimal mungkin. Pada kasus-kasus tertentu, bisa saja persalinan normal ini membutuhkan bantuan alat tambahan, seperti forsep ataupun vakum. Ada 4 hal yang perlu diingat jika Ibu menginginkan persalinannya berlangsung secara normal. Pertama, faktor bayi dalam kandungan. Karenanya, selama bulan-bulan kehamilan, Ibu disarankan melakukan kontrol secara rutin. Dokter akan selalu melakukan USG untuk memantau kondisi kesehatan janin, seperti ukuran janin (bobot tubuhnya) apakah normal untuk usia kandungan tertentu. Dibulan terakhir kehamilan, bobot bayi lahir yang normal berkisar antara 2,5-4,0 kg. Pastikan bobot bayi tidak terlalu besar ataupun sebaliknya. Dokter juga dapat memantau keadaan plasenta dan tali pusatnya. Sebuah sumber dalam jurnal ilmiah menyebutkan bahwa sebenarnya tidak ada alasan ahli medis melakukan caesar hanya karena faktor lilitan tali pusat. Mengapa? Rata-rata bayi normal memiliki panjang tali pusat sekitar 50 cm, sehingga ukurannya cukup panjang. Jika terjadi lilitan 1-2 kali saja tidak menimbulkan masalah, tergantung posisi plasenta ada di sebelah mana. Namun, jika lilitannya melebihi 2-3 kali, baru akan berpengaruh dan peluang ini jarang terjadi.
Kedua, faktor ibu itu sendiri yang berkaitan dengan ukuran panggul; apakah cukup luas untuk dilewati bayinya kelak. “Harus ada kesesuaian antara yang ‘mau lewat’ dengan ‘yang dilewati’, sehingga perlu untuk memperhatikan ukuran bayi,” jelas dr Diah Sartika Sari, SpOG, klinisi ahli yang berpraktik di RSIA Kemang Medical Care, Jakarta. Selain itu, Ibu pun harus dinyatakan sehat secara fisik, artinya tidak menderita penyakit lain, seperti hipertensi yang cukup berisiko.
Ketiga, faktor kontraksi saat menjelang atau pada hari ‘H’. Apakah ada kontraksi simultan ataukah hilang-timbul, bahkan tidak ada kontraksi sama sekali yang mengharuskan si ibu diinduksi dengan pemberian hormon oksitosin melalui infus atau prostaglandin melalui vagina. Pada dasarnya, setiap kasus persalinan adalah unik dan membutuhkan penanganan yang berbeda.
Keempat, faktor yang sering dianggap remeh namun sebenarnya sangat berpengaruh, yaitu kondisi psikis si ibu. Dukungan dari si ayah ataupun kerabat keluarga lain, sangat diperlukan demi kelancaran persalinan, selain tenaga medis yang menanganinya. Hindarkan stres karena hanya akan menimbulkan tense mind yang memengaruhi serviks dan menyebabkan ketegangan pada vagina sehingga persalinan menjadi tidak lancar.
• Kelebihan persalinan normal “Ya, namanya saja persalinan normal, maka itulah cara paling alami yang banyak dipilih,” ujar dr Diah Sartika Sari, SpOG. Persalinan normal memang yang paling ideal. Persalinan ini tentu minim risiko, seperti perdarahan yang tidak berlebihan. Biaya persalinannya tentu jauh lebih murah ketimbang caesar. Proses pemulihan setelah persalinan umumnya lebih cepat. Ibu tak perlu menjalani rawat inap lama; sekitar 4-6 jam pascapersalinan, umumnya si Ibu sudah bisa berjalan dan keesokan harinya sudah boleh pulang dari rumah sakit. Rahim pun akan melalui proses alami untuk kembali ke bentuk semula. Jika Ibu berencana memiliki anak lagi, maka tidak ada masalah dengan jarak kehamilan berikutnya. Secara biologi, persalinan ini memicu kelenjar susu memproduksi kolostrum untuk dihasilkannya air susu. Selain itu, bayi yang lahir secara normal memiliki daya tahan tubuh terhadap alergi yang lebih tinggi dan risiko asma juga rendah.
• Kekurangan persalinan normal Meski kini ada banyak pilihan untuk meredakan/menghilangkan rasa nyeri saat persalinan, memang pada persalinan normal yang biasa masih menyisakan trauma nyeri persalinan. Bagi sebagian Ibu, nyeri ini bisa terasa semakin menyakitkan terutama bila si Ibu tegang. Selain itu, penyayatan sebagian area vagina di dekat anus yang istilah medisnya ‘episiotomi’ ini, berisiko membuat keelastisitasan vagina saat berhubungan seks menjadi berkurang. Ada kemungkinan, Ibu pun mengalami kesulitan duduk dan berdiri selama seminggu. Bila si ibu memilih persalinan normal secara epidural, obat-obatan yang digunakan bisa saja masuk ke aliran darah si bayi dan membuatnya sering mengantuk dan terkadang lambat bernapas saat dilahirkan kelak.
Mengapa Harus Bersalin Caesar? Meskipun tidak ada data yang bisa merepresentasikan populasi, harus diakui bahwa ada tren semakin banyak ibu hamil yang merencanakan persalinannya secara sectio caesaria (operasi caesar). Jenis operasi besar yang satu ini bukan tanpa alasan untuk dipilih. Data survei yang dikutip dari sebuah buku kehamilan oleh Nadia Mulya menunjukkan bahwa 394 responden memilih caesar karena beragam alasan. Sebanyak 83.5% di antaranya mengaku harus bersalin caesar karena keputusan dokter (komplikasi medis). Memang, persalinan caesar sebaiknya hanya dilakukan bila ada indikasi medis yang mengancam keselamatan ibu dan bayi-- yang bahkan baru diketahui di detik-detik menjelang kelahiran. Indikasi-indikasi seperti minimnya cairan ketuban yang tersisa, bayi berada dalam posisi sungsang atau melintang, kondisi placenta previa (posisi plasenta berada di bawah rahim sehingga menghambat jalan lahir), pre-eklamsia menjelang kelahiran, salah satu janin pada kehamilan kembar meninggal, panggul sempit sementara bobot bayi terlalu besar, dan infeksi penyakit menular-- sering terjadi pada kasus persalinan caesar. Namun, bukan berarti semua indikasi medis wajib melalui caesar. Ini tentunya sangat berkaitan dengan edukasi para dokter yang menangani kontrol kehamilan dan persalinan si ibu. Karenanya, Ibu harus lebih cermat dalam memilih ahli medis yang menangani kehamilan berikut persalinannya kelak. Sebanyak 10% responden lainnya beralasan memilih caesar karena kehamilan sebelumnya juga melalui cara yang sama. Sementara responden sisanya, memilih karena tidak ingin merasakan nyeri hebat persalinan dengan proses yang relatif cepat, faktor estetika (tidak ingin elastisitas vagina berubah), bisa menentukan tanggal kelahiran bayi, dan rekomendasi kerabat.
• Saat-saat persalinan Proses persalinan secara caesar dimulai dengan mencukur rambut di bagian bawah garis kemaluan dan Ibu akan diberikan suntikan epidural. Lalu, cairan infus disuntikkan ke pembuluh vena. Ibu juga akan diberikan antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi. Detak jantung dan tekanan darah juga selalu dipantau lewat monitor khusus selama jalannya operasi dan kateter juga dipasang untuk mengosongkan kandung kemih selama operasi berlangsung. Setelah Ibu berada dibawah pengaruh obat bius, barulah tindakan penyayatan dilakukan. Keseluruhan proses dapat berlangsung selama 30 hingga 45 menit dan bayi Ibu lahir di lima atau sepuluh menit pertama.
• Kekurangan persalinan caesar Bila Ibu bersalin secara caesar, maka ada beberapa hal ketidaknyamanan yang kelak dirasakan meski operasi dijalankan sesuai standar operasionalnya. Beberapa hari pertama pascapersalinan, akan timbul rasa nyeri hebat yang kadarnya dapat berbeda-beda pada setiap Ibu. Proses pemulihan cenderung berlangsung lebih lama, sehingga Ibu harus menjalani waktu rawat inap yang lebih lama ketimbang persalinan normal. Efek obat biusnya dapat membuat bayi cepat mengantuk, sulit saat harus mulai bernapas saat dilahirkan, sembelit, dan masuk angin. Sementara cara penyuntikkan obat bius di tulang punggung dapat membuat Ibu sering merasakan kesemutan dan rasa pusing cukup hebat di kemudian hari. Operasi besar ini menimbulkan trauma operasi, seperti terjadinya risiko perdarahan dua kali lebih besar ketimbang persalinan normal dan juga risiko kerusakan kandung kemih. Tentu saja biaya persalinan caesar akan jauh lebih mahal.
• Kelebihan persalinan caesar Bila indikasi medis membuat persalinan normal menjadi berisiko tinggi, persalinan caesar tentu saja menjadi cara teraman. Ibu yang memilih dibius secara lokal dapat melahirkan secara sadar, sehingga bisa segera menyusui si bayi dengan IMD (Inisiasi Menyusui Dini) segera setelah operasi. Selain itu, karena tidak ada proses mengejan, risiko meregangnya otot-otot dasar panggul dan vagina menjadi berkurang. Proses persalinan dengan cara ini relatif singkat—membutuhkan waktu kurang dari satu jam.
dr. Diah Sartika Sari, SpOG
Materi disunting dan pernah dimuat pada Majalah Kartini Edisi Ibu dan Anak |
|
Teknologi kedokteran yang semakin canggih dari waktu ke waktu telah memungkinkan banyak pasangan untuk merencanakan jenis kelamin janin mereka. Meski keberhasilannya ada yang mendekati 100%, namun semua program tersebut berpulang kembali pada masing-masing pasangan. Sekadar memenuhi keinginan ataukah ada alasan medis yang mendasarinya?
Program untuk merencanakan jenis kelamin (seks) janin sebenarnya sudah sejak lama dilakukan. Ada yang dilakukan dengan cara natural, seperti dengan menggunakan perhitungan masa subur saat melakukan hubungan seks, hingga mengatur nutrisi si Ayah dengan konsumsi daging, buah, dan sayuran tertentu. Dengan kemajuan metode teknologi kedokteran, tujuan ini juga dapat dicapai dengan cara pemeriksaan awal.
Menilik Cara Natural & Keberhasilannya Cara natural merupakan salah satu cara yang dipilih banyak pasangan saat berkonsultasi dengan ahli medis untuk merencanakan jenis kelamin janin yang diinginkan, meski tergolong inkonsisten. Secara ilmiah, kemungkinan mendapatkan jenis kelamin janin ini memang bisa dijelaskan. Kita mengenal teori ‘kromosom X (penentu seks perempuan) dan kromosom Y (penentu seks laki-laki)’. Kromosom Y ini bergerak lebih cepat dan rentan terhadap keasaman vagina sehingga lebih cepat mati. Sementara kromosom X, lebih lambat gerakannya namun lebih tahan terhadap keasaman vagina. Sebelum terjadinya pembuahan (fertilisasi), sel telur (ovum) yang belum dibuahi membawa kromosom X, sementara sperma bisa membawa kromosom X maupun Y.
-
Mengatur waktu hubungan seks Prinsip cara ini adalah dengan memberi jarak antara waktu berhubungan seks dengan waktu ovulasinya (masa subur). Misalnya saja, hari subur si Ibu setiap bulannya jatuh pada tanggal 14. Maka, jika menginginkan janin laki-laki, pasangan ini harus melakukan hubungan seks yang berkualitas saat menjelang masa subur (satu hari sebelumnya atau tepat pada tanggal 14). Karenanya, kromosom Y sperma akan langsung bertemu dan membuahi kromosom X ovum, sehingga kemungkinan terbentuknya janin laki-laki cukup besar. Sebaliknya, jika menginginkan janin perempuan, pasangan ini hendaknya melakukan hubungan seks beberapa hari (3-4 hari) sebelum hari subur si Ibu. Dengan demikian, kromosom Y sperma akan terpapar oleh keasaman cairan vagina, sehingga kemungkinan kromosom X sperma yang tersisa untuk bertemu dan membuahi kromosom X ovum, hingga kelak terbentuk janin perempuan.
-
Mengondisikan vagina sebelum berhubungan seks Cara natural yang kedua, yaitu dengan mengondisikan kondisi keasaman (pH) cairan vagina sebelum berhubungan seks. Jika pasangan ingin mendapatkan janin laki-laki (XY) kelak, maka sebelum berhubungan seks, si Ibu dianjurkan membasuh vaginanya dengan larutan garam (seperti air yang dicampur baking soda) agar keadaan pH-nya cenderung basa, sehingga kromosom Y sperma tetap hidup dan membuahi kromosom X ovum. Begitu pula sebaliknya, si Ibu dapat membasuh vaginanya dengan cairan asam (seperti air yang dicampur cuka) untuk membunuh kromosom Y sperma, sehingga yang tersisa kromosom X sperma untuk segera membuahi kromosom X ovum. Karenanya, kemungkinan mendapatkan janin perempuan (XX) lebih besar. Lakukan kedua cara di atas sebelum berhubungan seks, namun tentu saja, komposisi asam atau basa itu harus tepat agar tak melukai organ intim.
-
Mengatur nutrisi si Ayah Hingga saat ini memang belum ada suatu data ilmiah yang sangat mendukung keterkaitan langsung antara jenis makanan yang dikonsumsi si Ayah sebelum melakukan hubungan seks dengan jenis kelamin janin yang dikandung si Ibu kelak. Namun secara ilmiah, nutrisi tertentu memang berperan dalam membentuk karakter-karakter kehidupan tertentu. Ingin janin laki-laki? Biasanya, si Ayah akan dianjurkan mengonsumsi jenis-jenis makanan seperti daging merah, ikan asin, seledri, pisang, dan aprikot. Bila perlu, kudapan si Ayah juga diatur dengan makanan berbahan kentang dan terigu. Sebaliknya, jika pasangan menginginkan janinnya kelak perempuan, maka si Ayah dianjurkan mengonsumsi banyak sayuran, ikan, produk susu, buah (apel, jeruk, peach) dengan bentuk kudapan seperti cokelat.
Dibalik Kecanggihan Teknologi Medis
Dibidang medis, sex selection dilakukan dengan memfokuskan pada DNA content. Kromosom X diketahui memiliki berat yang lebih besar ketimbang kromosom Y; dan berat keduanya berkisar antara 2.8-3.0%. Karenanya, kedua jenis kromosom ini dapat dipisahkan. Ada beberapa teknik pemisahan kedua jenis kromosom seks ini berdasarkan tingkat akurasinya. Teknik swim up sperma dan perhitungan kadar albumin sperma dapat dilakukan untuk tingkat keberhasilan yang mencapai 70-80%. Sementara untuk mencapai tingkat akurasi yang lebih tinggi (sampai mencapai 90%), teknik fluoresensi dapat dipakai untuk memisahkan kromosom X dengan kromosom Y. Prinsipnya, semen si Ayah yang dikeluarkan saat ejakulasi dipisahkan di luar untuk kemudian diinseminasi—yang lebih dikenal dengan istilah ‘reproduksi berbantu’. Untuk tingkat akurasi mendekati kesempurnaan (mendekati 100%), teknik PGD (preimplantation genetics) dapat dipilih dengan membuat layaknya ‘bayi-bayi tabung’ sehingga kromosom X dan kromosom Y dapat dipisahkan dengan mudah untuk selanjutnya ditransfer sesuai jenis kelamin janin yang diinginkan. Fenomena sex selection ini banyak dijumpai di India; biasanya bayi perempuan didiskriminasi. Sementara di Indonesia, belum ada peraturan tentang ini. “Sebelum melakukan cara natural ataupun teknologi medis seakurat apa pun, pada intinya Tuhan is the best,” ujar dr Diah Sartika Sari, SpOG yang berpraktik di Klinik Kebidanan dan Kandungan RSIA Kemang Medical Care, Jakarta. “Bagaimanapun, baik cara natural dan teknologi medis akan berdampak besar seperti fenomena diskriminasi terhadap gender janin dan aspek hukum akibat aborsi janin perempuan seperti banyak kasus di India,” paparnya lebih lanjut. Cara-cara sex selection seyogyanya hanya bisa dilakukan karena alasan medis, seperti kasus penyakit menurun hemofilia. “Di RSIA Kemang Medical Care sendiri, pasangan-pasangan yang merencanakan kelahiran bayi mereka sesuai program jenis kelamin ini, dilakukan dengan cara natural karena alasan family balancing,” ungkapnya.
Posisi Seks Memengaruhi Jenis Kelamin Janin?
Meski ada beberapa sumber yang menyebutkan bahwa posisi pasangan saat berhubungan seks menentukan jenis kelamin janin kelak, praktisi ginekologi dr. Diah Sartika Sari, SpOG membantahnya, karena tidak terbukti secara ilmiah. Posisi si Ibu yang tetap dalam arah horizontal ataupun berdiri saat berhubungan untuk membantu kromosom Y sperma mencapai rahim, hanyalah suatu mitos yang tidak berlandaskan metode ilmiah. Demikian pula, gaya berhubungan woman on top yang disebut-sebut dapat melahirkan janin perempuan. Ada beberapa teknik pemisahan kedua jenis kromosom seks ini berdasarkan tingkat akurasinya. Teknik swim up sperma dan perhitungan kadar albumin sperma dapat dilakukan untuk tingkat keberhasilan yang mencapai 70-80%. Sementara untuk mencapai tingkat akurasi yang lebih tinggi (sampai mencapai 90%), teknik fluoresensi dapat dipakai untuk memisahkan kromosom X dengan kromosom Y. Prinsipnya, semen si Ayah yang dikeluarkan saat ejakulasi dipisahkan di luar untuk kemudian diinseminasi—yang lebih dikenal dengan istilah ‘reproduksi berbantu’. Untuk tingkat akurasi mendekati kesempurnaan (mendekati 100%), teknik PGD (preimplantation genetics) dapat dipilih dengan membuat layaknya ‘bayi-bayi tabung’ sehingga kromosom X dan kromosom Y dapat dipisahkan dengan mudah untuk selanjutnya ditransfer sesuai jenis kelamin janin yang diinginkan.
Tabel Pembuahan Versi Institut Ilmu Pengetahuan Beijing

Sebuah naskah temuan yang disimpan oleh Institut Ilmu Pengetahuan Beijing menggambarkan bagaimana jenis kelamin janin dapat dipengaruhi dari bulan pembuahan dan usia si Ibu. Percaya atau tidak, pada hakikatnya tabel ini dapat diambil esensi kebenarannya dari rumus usia si Ibu yang merefleksikan masa-masa suburnya.
Tips dari Pakar
-
Si Ibu harus tahu masa subur dengan metode perhitungan yang benar.
-
Jika pasangan menginginkan janin: - laki-laki: lakukan hubungan seks berkualitas saat masa subur, - perempuan: lakukan hubungan seks beberapa hari (3-4 hari) sebelum masa subur.
-
Niat dan usaha pasangan yang dilakukan untuk menjalankan program sex selection tidak boleh melebihi kepercayaan akan keputusan Tuhan yang terbaik.
dr. Diah Sartika Sari, SpOG
Artikel disunting dan pernah dimuat pada Majalah Kartini Edisi Khusus Ibu dan Anak |
|
|